Sebuah Keikhlasan

0
| Sabtu, 17 Desember 2011

Adzan maghrib telah berkumandang. Hiruk pikuk orang-orang masih memadati jalan raya kota Jakarta. Hita mendengus kesal karena sudah dua jam ia terjebak dalam kemacetan di daerah Cawang. Bus yang ia tumpangi sudah penuh sesak, bersyukur ia mendapatkan tempat duduk sehingga dapat bernafas lega dari himpitan dan bau kecut keringat orang-orang yang telah memadati bus yang ia tumpangi.  Perlahan ia mengeluarkan sebotol air putih dan beberapa butir kurma yang didapatnya dari kantor, ia berbuka puasa sejenak di hari pertama bulan Ramadhan dalam bus.
            Tiba-tiba telepon genggamnya bergetar, sengaja ia set silent agar bunyi telepon dan sms tidak mengganggu penumpang yang lain. Ia melihat ada sms dari nomor telkomsel yang ia kenal dan tidak lain adalah ibunya. Dengan tersenyum,  ia cepat membalas sms dari ibunya. Ia sudah menyiapkan buah tangan 2 bungkus sate kambing beserta lontong untuk ibu dan adiknya.
            “PASAR REBO,, PASAR REBO,,,” sang kondektur mengetukkan dinding pintu bus yang mengisyaratkan bus sudah sampai di Pasar Rebo. Hita terhenyak dan bersiap untuk turun di Pasar Rebo.
            Hita gelisah melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 19.30 WIB. Ia masih menunggu angkot jurusan Cimanggis, dan ia belum mendapatkannya. Hita berinisiatif mencari mushola di sekitar Pasar Rebo untuk sholat maghrib, dan ia menemukannya setelah bertanya-tanya dengan orang-orang di sekitar Pasar Rebo.
            Letak musholanya dekat jalan raya, tetapi agak terpencil letaknya karena harus masuk pemukiman penduduk. Hita tertegun melihat seorang ibu beserta bayi yang digendongnya duduk di mushola dengan wajah lusuh dan muram.
            Setelah mengambil air wudhu dan sholat maghrib, Hita bersiap akan pulang dan terkejut saat mendengar percakapan ibu itu dengan salah satu warga setempat.
            “Saya tidak tahu harus kemana lagi, Pak. Saya ke Jakarta karena ingin menemui suami saya yang kerja di sini, tetapi alamat yang ia beri beberapa tahun silam ternyata palsu dan sudah menjadi pemakaman. Uang saya sudah habis buat pulang kampung ke Purworejo.”
            Hita terenyuh dan menghampiri ibu yang sedang dilanda kesusahan. Hita mengantar ibu tersebut ke Kp. Rambutan dan membelikan tiket bus ke Purworedjo dan memberikannya sedikit uang serta sebungkus sate kambingnya.
            “semoga Allah membalas segala kebaikanmu, Nak...” kata ibu itu sambil tersenyum haru di bus.


pernah dipublikasikan dalam ajang lomba cermin ramadhan kompasiana.

Kehilangan Sang Guru

0
| Minggu, 27 November 2011

Terima kasih atas segalanya, Pak.
saya sangat berhutang budi besar kepada bapak.
kalau bukan karena bapak, saya belum tentu bisa bertahan di UGM karena masalah finansial.
kalau bukan karena bapak, saya belum tentu bisa semangat menulis hingga sampai ke majalah pemerintah.
dan kalau bukan karena bapak juga, saya belum tentu bisa memaknai arti dari sebuah sejarah yang bergulir dalam hidup...

Semoga Allah menerima amal dan perbuatan bapak serta diampuni seluruh dosa...
amiiin... :)

nb: foto tersebut adalah komentarnya tentang tulisan saya yang dimuat di Majalah Gagasan... :)

Senjaku Membias, Mengejarmu

0
| Kamis, 10 November 2011


Ma…
apa kabarmu?
sore menguning
hangatkah kamu?
.
Ma…
ada sekantung rindu
menggantung
menggelembung
.
tahukah kamu?
.
Ma…
ada sedegup rasa
mengguncah
merekah
.
tahukah kamu?
.
Ma…
ada letusan kasih
mendegup
meletup
.
tahukah kamu?
.
Ma…
ah…
aku tak tahu apa kamu tahu
aku masih terjaga, Ma
menatapmu
lekat
.
detik memang mendekat
takdir memang mendesak
mengejarku
meraihmu
.
Ma…
tak lama lagi aku luluh
beringin di hati kan lepas
menghempas
terserak
tapi pasak mengokohkan cinta kita
.
Ma…
aku menunggu
di senja yang tak lagi bias
di embun yang tak lagi mengembun
di hening
.
Ma…
aku habis kata
tapi tak habis cinta
tunggu aku, Ma.

*Lelaki tua itu tertatih meninggalkan makam istrinya

—–
Sumber foto : http://www.cantierecanavesano.org/?page_id=363
.

.
Kolaborasi puisi dengan Hartika Arbiyanti (251)
Untuk melihat hasil karya FPK lainnya, silakan bekunjung ke sini
.

Elegi

0
| Selasa, 01 November 2011



aku masih terduduk menunggu
menunggu fajar yang tak pernah meninggalkan embun
menunggu senja yang tak jera memendarkan kilau rona
menunggu malam yang tak letih mengiringi bintang
menunggu gerimis yang tak pernah malu memercikan air kasih
juga menunggumu
dan berharap

aku mencintaimu dengan sadar
sadar dengan detik yang terus berlari dan melindas asa
sadar dengan pengharapan yang lambat laun kan terserak
sadar dengan sepatah ungkapan yang tak sempat tersampaikan oleh bibir
dan sadar bahwa setiap pertemuan pasti ada perpisahan
perpisahan takdir yang tak terduga
dan tak pernah sekalipun aku inginkan

masih ingat kah kau dengan tempat ini?
aku masih bertahan tegak di tempat ini
tempat di mana kita bertemu
tempat di mana kita bertegur sapa
tempat di mana aku menemanimu dalam keadaan yang terkoyak
tempat di mana gerimis menyatukan bias sipu senyum kita
dan tempat di mana kita terpisahkan tanpa ikatan

ahh, rinai gerimis ini terlalu syahdu untuk dikenang
dan derai air mata ini sudah berguguran tak berguna
membasahi desir pasir yang tak lagi kering
aku hanya terdiam membisu dan kau pun juga
lalu kau pergi tanpa pastinya rasa
dan meninggalkan asa

tahukah kau?
elegi ini terlalu sulit untuk aku akui
cinta yang tersembunyi
tak tersirat
tak terbatas

Hartika Arbiyanti
Karangwuni E6 Yogya, 29/10/2011, 11:09

Separuh Jiwaku...

0
| Kamis, 27 Oktober 2011

Selamat ulang tahun, Ibunda...
Ananda mencintaimu sangat, melebihi apapun
Terima kasih atas cinta kasih yang tak terbatas
darimu aku banyak belajar tentang segala hal
perjuangan hidup yang keras
keikhlasan yang kekal
pengorbanan yang suci
dan cinta kasih yang murni

maafkan ananda bila sering mengecewakanmu, ibunda...
tetapi rasa cintaku kepadamu melebihi apapun
semoga suatu saat nanti ananda bisa membahagiakanmu
walau nyawa harus aku pertaruhkan
meski raga harus aku dera
meski detik harus aku gadaikan
ananda akan selalu berjuang
untuk hari ini, esok, dan selamanya...

Cerita Tentang Bubarkan Canting di Gunung Api Purba Gunung Kidul, Yogyakarta

1
| Minggu, 04 September 2011
Saya sempat tersentak kaget ketika dikabarkan Komunitas Canting akan mengadakan acara Bubarkan (Buka Bareng) Canting di Gunung Api Purba Gunung Kidul, Yogyakarta, pada Agustus silam via sms dan Facebook. Saya langsung mengiyakan untuk mengikutinya demi mendapatkan pengalaman baru, yaitu berbuka puasa di gunung. :D

Setelah saya menghubungi Mbak Sasha dan mendapat teman barengan (fyi, boncengan motor karena saya nggak ada motor. hehe), yaitu Mbak Belinda, akhirnya berangkat juga lah saya demi mengikuti Bubarkan Canting. Saya dan Mbak Belinda menuju ke JEC, tempat janjiannya untuk ngumpul dan berangkat bareng, dan senang sekali karena banyak juga yang ikut. Kaget dan seneng juga saya kembali melihat Mbak Rina yang jauh-jauh dari Surabaya, ditambah saya mendapatkan teman-teman baru, yaitu Mbak Umi yang berangkat dari Solo, dan Uuk yang asli Jogja. Mereka anak-anak Canting angkatan lama, dan saya masih baru makanya saya harus kenalan. :P

Ketika semua berkumpul, kami berangkat sekitar jam 15.30 WIB dari JEC. Saya diboncengi sama Uuk. Saya benar-benar menikmati suasananya saat itu, melihat wajah Jogja dari berbagai sisi (halah !), dan saya juga melihat kota dari atas. Selama diperjalanan, saya ngobrol ngalur ngidul dengan Uuk tentang Jogja, Bukit Bintang, dan Gunung Api Purba (jujur, saya baru tahu kalau ada bukit bintang di jogja yang notabene buat orang pacaran. hahaha... #katrok #ndeso).

Kami sampai di kaki gunung sekitar jam 17.00 WIB. Saat mulai pendakian, saya merasa bersemangat sekali. Tetapi kondisi badan mempengaruhi semangat saya rupanya, ketika dipertengahan perjalanan darah rendah kumat yang menyebabkan saya harus tinggal dari rombongan pendakian, mungkin efek puasa. Bersyukur, ada Mas Muhayat, Mbak Ika Maria, dan Paman Dori yang sudah ikhlas menunggui dan merawat saya saat terkapar dan nyaris pingsan (terima kasih banyak yaaa, kalian sangat baik, maaf sudah merepotkan dan menyusahkan kalian...). Setelah berbuka puasa, saya kembali melanjutkan perjalanan, tetapi sebelum sampai atas saya kembali ngedrop karena darah rendah yang sudah mulai membaik menjadi kembali kambuh, dan kumatnya itu di terowongan sempit nan gelap. Saya istirahat dan Mas Muhayat, Mbak Ika, dan Paman Dori kembali menunggui saya. Setelah agak membaik, perlahan saya kembali bersemangat untuk naik ke atas dan berusaha mengalahkan sakit yang saya rasakan. Mas Muhayat, Mbak Ika, dan Paman Dori menuntun dan memberi support agar saya bisa melaluinya. :)

Setelah sampai atas, kami disambut anak-anak Canting yang sudah duluan sampai. Saya bernafas lega meski harus runtuh di hamparan tikar untuk istirahat sejenak. Mas Hendra, Mbak Mesha, dan Uuk menyuruh saya untuk istirahat agar kondisi lebih baik. Setelah istirahat sejenak dan mulai agak membaik, saya menyusul teman-teman Canting untuk makan bersama.

Saya berjalan sejenak melihat pemandangan, Ya Allah bagus banget ! saya melihat kota Jogja di malam hari dan terbitnya bulan purnama. Duh, syahdu sekali. Apalagi ditambah candaan ngalor-ngidul sama anak-anak. Di sini lah saya merasakan kekeluargaan dan persaudaraan yang sangat erat. :)

Setelah makan bersama, dan sholat bersama, kami semua harus ke tempat atas lagi (Pos 2) dikarenakan dinginnya hawa di Pos 1. Sebelum naik ke atas, kami menyempatkan foto bersama...

Berfoto ria sebelum mendaki ke Pos 2
Setelah berfoto dan bernarsis ria, kami melanjutkan pendakian ke Pos 2. Saya sempat berpikir, acara pendakian gunung koq persis seperti ospek jurusan, bedanya kalo di canting yang ada hanya kekeluargaan dan persaudaraan, kalau ospek yang ada hanya peloncoan serta ajang senioritas untuk mencari kesalahan sang mahasiswa baru. hehehe... :)

Udara tidak lagi dingin ketika sudah sampai di Pos 2 dan langsung mendirikan 2 buah tenda untuk tidur. Setelah mendirikan tenda, kami langsung menyalakan api unggun dan bernyanyi ria dengan alunan gitar Paman Dori dan merdunya suaranya Mbak Sasha, Mbak Belinda, dan Mbak Ika (saya juga ikut bernyanyi meski suara saya jelek, dan saya seneng banget, seakan beban hati hilang. :) hehehe ).

Setelah bernyanyi ria dan ngobrol ngalur ngidul, saya memutuskan ke tenda untuk istirahat karena kelelahan bersama Mbak Belinda dan Mbak Umi. Kata Mbak Sasha dan Mbak Mesha, malam itu ada fenomena alam komet atau hujan meteor (lupa, karena saat itu saya ngantuk. hehehe...) tetapi ga apa deh, meski saya ga liat fenomena alam tersebut, saya udah seneng banget. :)

Saat sahur, Saya keluar tenda. Hawa dingin mulai menggigit tulang (karena sangat dingin). Saya makan bersama dengan anak-anak Canting serta mencicipi mie dan lauk sarden yang enak banget (ntah buatan siapa, yang jelas saya memuji masakannya. kalo tahu siapa yang masak, saya jadi pengen minta resepnya. hehehe). Setelah sahur dan sholat subuh, saya kembali tidur di tenda.

Pagi harinya, saya melihat pemandangan yang bagus banget dari bibir tebing. Beberapa teman-teman Canting sudah ada yang pulang duluan, sedangkan saya harus menunggu Uuk. Setelah menunggu Uuk, Mbak Muti, Mbak Rika, Mas Ngashim, dan Mas Muhayat melihat sunrise, saya sempat foto-fotoan. hehehe...

Pokoknya, saya tidak akan melupakan pengalaman di Gunung Api Purba Gunung Kidul, Yogyakarta... :)

saya yang paling narsis. hahaha...

hmm...

andai waktu bisa ku putar kembali...



Berusaha melewati gang bebatuan nan sempit saat turun gunung

Melihat pemandangan

Masih sempat narsis saat turun gunung :D

Cintaku Gugur di Gunung Karang, Banten

2
| Kamis, 25 Agustus 2011

Senja mulai temaram di penghujung Sabtu, Hita masih membereskan rumah mendiang almarhumah neneknya di Bekasi yang sekarang ditinggali oleh bibinya, adik tiri ibu Hita. Hita sengaja mampir ke Bekasi karena bibinya minta ditemani selama suaminya ke luar kota untuk mengurus pekerjaan.
“Hita, berberesnya disudahkan dulu saja. Mandi dulu sana, kamu itu belum mandi semenjak datang, kok malah langsung berberes?” kata bibinya sambil menyuapi anaknya yang baru berumur 4 bulan.
“iya nggak apa-apa, Bi. Sebentar lagi selesai kok, tinggal di sapu saja” sahut Hita tersenyum sambil membawa gagang sapu.
Semenjak datang tadi sore, Hita sebenarnya ingin langsung mandi. Tetapi niatnya diurungkan karena kotornya lantai. Bibinya memang jarang sekali membersihkan rumah, mungkin terlalu sibuk mengurus anaknya yang masih kecil-kecil ditambah tidak ada yang membantunya. Hita jarang sekali main dan menginap di Bekasi karena kesibukan bekerja yang menyita waktunya sehingga tidak sempat untuk menjenguk bibinya.
Di sela-sela menyapu di sekitar lemari milik mendiang neneknya, Hita menemukan sebuah foto putih hitam yang kusam. Dengan segera dipungutnya dan melihat foto mendiang neneknya ketika masih muda yang sedang duduk bersama mendiang kakeknya yang sedang memegang bambu runcing dengan pakaian seadanya. Hita pun teringat akan cerita mendiang neneknya ketika ia masih kecil.
***
Tanggerang, 17 Agustus 1987.         
Hita tersenyum senang dan tergesa berlari ke rumah. Ia baru saja mendapatkan hadiah dari lomba balap karung dan makan kerupuk tingkat RT dalam rangka HUT RI. Saat itu Hita berumur 7 tahun. Sesampainya di rumah, ia mencari neneknya yang sedang menginap di rumah. Ia sangat dekat dengan neneknya.
“Ibu, Hita dapat juara satu. Hita seneeeng banget ! nenek mana, Bu? Hita pengen kasih tau ke nenek.” Kata Hita sambil menyalamkan ibunya dan memegang bungkusan kado coklat.
“Duuh, anak ibu hebat ! Nenek sedang di kamar, sayang. Oh ya, ibu sedang masak semur jengkol loh. Makanan kesukaan kamu kan itu?” kata ibunya tertawa sambil mencium keningnya Hita.
“Uuuuh, ibuu. Hita kan ga doyan jengkol. Hita doyannya cumi-cumi.” Sahut Hita sambil cemberut. Cumi-cumi adalah makanan kesukaan Hita.
“Iya iya, ibu juga masak cumi-cumi kok. Sudah, jangan ganggu ibu masak. Main sana sama nenek” kata ibu tersenyum dan melanjutkan memasaknya kembali.
Hita langsung ke kamar neneknya. Ia melihat neneknya sedang duduk di pinggiran tempat tidur sambil tercenung melihat sebuah benda di tangannya.
“Neneeek, Hita dapat juara satu looh. Hita seneeeng banget !” seloroh Hita sambil bergelayut manja di sisi neneknya. Neneknya tersentak kaget karena Hita tidak mengetuk pintu langsung masuk ke kamarnya.
            “waah, cucu nenek hebat ! apa isi kadonya?” kata neneknya sambil mengelus rambut Hita yang hitam legam tetapi pendek.
            “Nggak tahu, Nek. Kayaknya peralatan sekolah. Itu apa yang dipegang nenek?” tanya Hita penasaran.
            “Hmm, ini foto nenek sama kakekmu, sekitar tahun 1940an”  jelas Nenek Hita sambil memperlihatkan foto hitam putihnya ke Hita.
            “Yang itu nenek? Wah, nenek cantik banget, rambutnya panjang dikepang dua. Itu kakek ya? kakek kok pegang bambu? Itu lagi di mana, Nek?”
            “Iya, ini kakek dan nenek lagi di Banten. Kakekmu dulu seorang pedagang, tetapi ia juga membantu mengusir Belanda dari Banten, kota kelahiran kakek dan nenek. Tetapi kakekmu gugur di medan perang saat nenek melahirkan ibumu, sayang” jelas Neneknya Hita, suaranya terdengar parau dan sedih.
            “Gugur?” tanya Hita tidak mengerti.
            “Gugur itu artinya meninggal, sayang. Hita mau dengar cerita nenek tentang kakek?” tanya nenek Hita tersenyum.
            “iya, Hita mau denger. Ayo cerita, Nek !” sahut Hita girang dengan mata berbinar-binar.
            Nenek menghela nafas panjang, lalu ia mulai bercerita dengan bahasa yang dapat dimengerti oleh Hita, dan Hita menyimaknya dengan serius.
***
            Namaku Turiah, aku biasa dipanggil Turi. Aku terlahir di Banten, tanah Jawa Barat. Aku tidak mengetahui siapa kedua orang tuaku. Aku dipungut oleh Kyai Buya di Ciomas, Banten, yang sudah aku anggap sebagai ayahku sendiri. Kata beliau, kedua orang tuaku menitipkan aku kepadanya saat mereka dikejar-kejar oleh Belanda karena ketahuan meledakkan markas Belanda di Cilegon bersama masyarakat. Ayahku dan sejumlah masyarakat kabur tunggang langgang karena akan dihukum mati oleh Belanda. Mereka ingin melawan tetapi kalah dalam fasilitas senjata. Ayahku yang membawa ibuku, takut kalau aku yang masih bayi sampai menjadi korban. Mereka terpaksa menitipkan aku ke Kyai Buya dalam perjalanan pelariannya. Mereka berpesan kepada Kyai Buya kalau mereka akan kembali lagi untuk mengambilku kalau mereka masih ada umur panjang, tetapi dalam kenyataannya mereka tidak kembali lagi.
            Setelah beranjak remaja, aku bertemu dengan seorang pria hitam manis di Pasar Ciomas. Namanya adalah Husein. Ia seorang pedagang sayur yang ramah dan menyenangkan. Kami mulai dekat setelah ia menolongku ketika aku digoda oleh serdadu Belanda yang sedang mengawasi jalannya transaksi jual beli di pasar. Dengan keahlian silatnya, ia berhasil membuat serdadu Belanda tersebut lari tunggang langgang. Aku yang masih ketakutan, diantarkan pulang oleh Husein. Dalam perjalanan, ia selalu berusaha membuatku tertawa dan tidak merasa takut lagi.
            Setelah setahun dekat, ia melamarku dan kami menikah di penghujung bulan Desember tahun 1940. Kami tinggal di bawah kaki Gunung Karang, Banten. Kami dikaruniai satu orang anak laki-laki, namanya Haqi. Kami hidup dalam kesederhanaan meskipun terjadi pertumpahan darah di mana-mana karena perang melawan Bangsa Asing. Husein pun sering sekali ikut bertempur dengan bambu runcing peninggalan ayahnya. Ia sangat dendam dengan serdadu-serdadu berkulit putih yang telah membantai habis keluarganya hingga tak tersisa.
            Pada tahun 1944, aku hamil lagi. Husein sangat senang dan mengharap anaknya kelak lahir adalah perempuan. Saat itu kepenguasaan Belanda telah diambil alih oleh Bangsa Jepang. Husein beserta rakyat Banten terkena beban Romusha. Pekerjaan Romusha sangat berat, terkadang aku tidak tega melihat suamiku pulang ke rumah dengan tubuh yang penuh luka-luka dan tidak jarang ada yang berdarah. Ia hanya terdiam dan tersenyum tanpa berkata apa-apa.
            Pada tahun 1945, perkembangan janin didalam kandungan begitu pesat. Tidak jarang calon buah hatiku menendang perutku. Husein sangat senang dan sering menciumi perutku yang telah membuncit. Haqi, anak sulungku juga senang sekali dan tidak sabar menunggu adiknya lahir.
            Prahara itu datang ketika bangsa Jepang yang telah terusir dari ibu kota melarikan diri ke Gunung Karang. Mereka tidak bisa kembali ke negara Jepang karena kalah dalam Perang Dunia ke II. Dalam kegalauan yang telak, bangsa Jepang membabat habis warga Gunung Karang yang tidak hormat kepada mereka. Husein, suamiku, tidak tinggal diam melihat tetangga-tetangganya jatuh bergelimpangan bersimbah darah di tanah berbatu Gunung Karang tanpa dosa. Ia dan segenap warga di bawah kaki gunung melakukan strategi agar dapat mengusir tentara Jepang tersebut. Ia menjelaskan tentang propaganda dan strategi agar rencana dapat berjalan baik. Aku jengah dan takut. Sungguh, aku ketakutan kalau ia sampai terluka atau bahkan gugur. Sungguh, aku tidak siap menjadi janda, ditambah anak didalam kandunganku belum lahir. Aku mencegahnya, tetapi ia hanya tersenyum dan menghiburku agar aku tidak perlu mengkhawatirkan dirinya.
            Setelah sholat subuh dan makan, Husein bersiap-siap. Ia dan warga akan melaksanakan strateginya pagi itu. Aku pun menangis tidak rela. Ia menatapku sejenak, dan membungkukkan tubuhnya sambil memasangkan telinganya ke perutku.
            “Dede, lagi apa? Lagi bobo ya? Apapun jenis kelamin kamu nanti, abah nitip ummi ya? kalo seandainya abah ga bisa melihat dan menjaga Dede dan Ummi, Dede jagain Ummi ya? Abah selalu mendoakan Dede agar menjadi anak yang tegar, tangguh, serta cerdas. Abah sayang sama Dede” kata Husein sambil mengelus perutku. Tangisku kembali pecah.
            “Ummi, Abah berangkat dulu ya? jangan nangis lagi. Abah sayang sama Ummi. Insya Allah Abah pulang kok. Abah minta doa restu dari Ummi ya?”  kata Husein sambil mencium keningku, dan aku masih menangis.
            Diambilnya bambu runcing peninggalan ayahnya di dapur. ia mengecup kening Haqi yang sedang tidur. Ia tersenyum kepadaku dan mengucapkan salam. Hatiku renyuh dan sedih.
            Satu jam setelah Husein pergi, perutku mulas. Aku tidak sengaja memecahkan teh di gelas. Haqi terbangun dan panik. Ia pergi mencari bantuan. Aku lihat air ketubanku pecah beserta darah. Aku tidak berdaya, dan yang aku ingat adalah Husein, suamiku.
            Aku melahirkan di rumah dan dibantu oleh dukun beranak. Haqi menunggu bersama tetangga di luar rumah. Aku berjuang antara hidup dan mati agar anakku bisa lahir ke dunia ini dengan selamat. Setelah hampir habis perjuanganku, akhirnya terdengar tangis bayi yang baru saja keluar dari rahimku. Aku sangat senang, ditambah mendapat kabar kalau anakku adalah perempuan.
            Tiba-tiba Kang Asep, tetanggaku sekaligus teman seperjuangan suamiku, berlari tergesa-gesa menghampiri rumahku dengan raut wajah sedih.
            “Kang Asep? Kok sendirian? Kang Husein mana?” tanyaku menahan sakit akibat persalinan.
            Ia terdiam dan tertunduk lesu.
            “Neng Turi, tabahkan hatimu. Suamimu sekarang telah tiada, ia ditembak oleh serdadu Jepang. Ia mati syahid dalam memperjuangkan tanah kelahiran, Neng. Ia gugur tertembak di Gunung Karang”
            Aku tersentak kaget, mataku berkunang-kunang dan akhirnya gelap.
                                                                        ***              
            “Sudah, Ummi, tidak usah diceritakan lagi. Hita masih kecil...” kata ibu mendadak dari balik pintu kamar nenek. Terlihat jelas Ia murung dan sedih, mungkin karena ia tidak pernah bertemu ayahnya dan hanya tahu siapa ayahnya dari ibunya dan orang-orang Banten.
            “Ibu, kakeku ternyata hebat ya?” kata Hita sambil menyeka air matanya.
            Nenek terdiam dan melihat foto itu lagi. Setelah nenek Hita menjanda dua tahun, ia menikah dengan Kang Asep, teman seperjuangan suaminya. Dari pernikahannya, ia mempunyai satu anak perempuan yang tidak lain adalahnya bibi Hita. Setelah Ibunya Hita menikah, Kang Asep meninggal karena stroke, sedangkan nenek Hita meninggal saat Hita berusia 13 tahun karena penyakit diabetes.
***
            “Hita, sudah mandi belum?” tanya Bibi mengagetkan Hita. Hita tersentak dan terbuyar dari lamunan masa kecilnya tentang foto yang dipegangnya.
            “belum, Bi. Ini baru mau mandi kok.” Sahut Hita cepat sambil menaruh foto mendiang nenek dan kakeknya di laci meja.
            Sebelum meninggalkan foto di laci meja, Hita tersenyum.
            “Nenek, semoga kau dan kakek bahagia di alam keabadian...”
           

Hartika Arbiyanti
Karangwuni - Yogya, E6, 17/08/2011, 17:42

 

Copyright © 2010 My Life, Live, and Love Blogger Template by Dzignine