Senja mulai temaram di penghujung Sabtu, Hita masih membereskan rumah mendiang almarhumah neneknya di Bekasi yang sekarang ditinggali oleh bibinya, adik tiri ibu Hita. Hita sengaja mampir ke Bekasi karena bibinya minta ditemani selama suaminya ke luar kota untuk mengurus pekerjaan.
“Hita, berberesnya disudahkan dulu saja. Mandi dulu sana, kamu itu belum mandi semenjak datang, kok malah langsung berberes?” kata bibinya sambil menyuapi anaknya yang baru berumur 4 bulan.
“iya nggak apa-apa, Bi. Sebentar lagi selesai kok, tinggal di sapu saja” sahut Hita tersenyum sambil membawa gagang sapu.
Semenjak datang tadi sore, Hita sebenarnya ingin langsung mandi. Tetapi niatnya diurungkan karena kotornya lantai. Bibinya memang jarang sekali membersihkan rumah, mungkin terlalu sibuk mengurus anaknya yang masih kecil-kecil ditambah tidak ada yang membantunya. Hita jarang sekali main dan menginap di Bekasi karena kesibukan bekerja yang menyita waktunya sehingga tidak sempat untuk menjenguk bibinya.
Di sela-sela menyapu di sekitar lemari milik mendiang neneknya, Hita menemukan sebuah foto putih hitam yang kusam. Dengan segera dipungutnya dan melihat foto mendiang neneknya ketika masih muda yang sedang duduk bersama mendiang kakeknya yang sedang memegang bambu runcing dengan pakaian seadanya. Hita pun teringat akan cerita mendiang neneknya ketika ia masih kecil.
***
Tanggerang, 17 Agustus 1987.
Hita tersenyum senang dan tergesa berlari ke rumah. Ia baru saja mendapatkan hadiah dari lomba balap karung dan makan kerupuk tingkat RT dalam rangka HUT RI. Saat itu Hita berumur 7 tahun. Sesampainya di rumah, ia mencari neneknya yang sedang menginap di rumah. Ia sangat dekat dengan neneknya.
“Ibu, Hita dapat juara satu. Hita seneeeng banget ! nenek mana, Bu? Hita pengen kasih tau ke nenek.” Kata Hita sambil menyalamkan ibunya dan memegang bungkusan kado coklat.
“Duuh, anak ibu hebat ! Nenek sedang di kamar, sayang. Oh ya, ibu sedang masak semur jengkol loh. Makanan kesukaan kamu kan itu?” kata ibunya tertawa sambil mencium keningnya Hita.
“Uuuuh, ibuu. Hita kan ga doyan jengkol. Hita doyannya cumi-cumi.” Sahut Hita sambil cemberut. Cumi-cumi adalah makanan kesukaan Hita.
“Iya iya, ibu juga masak cumi-cumi kok. Sudah, jangan ganggu ibu masak. Main sana sama nenek” kata ibu tersenyum dan melanjutkan memasaknya kembali.
Hita langsung ke kamar neneknya. Ia melihat neneknya sedang duduk di pinggiran tempat tidur sambil tercenung melihat sebuah benda di tangannya.
“Neneeek, Hita dapat juara satu looh. Hita seneeeng banget !” seloroh Hita sambil bergelayut manja di sisi neneknya. Neneknya tersentak kaget karena Hita tidak mengetuk pintu langsung masuk ke kamarnya.
“waah, cucu nenek hebat ! apa isi kadonya?” kata neneknya sambil mengelus rambut Hita yang hitam legam tetapi pendek.
“Nggak tahu, Nek. Kayaknya peralatan sekolah. Itu apa yang dipegang nenek?” tanya Hita penasaran.
“Hmm, ini foto nenek sama kakekmu, sekitar tahun 1940an” jelas Nenek Hita sambil memperlihatkan foto hitam putihnya ke Hita.
“Yang itu nenek? Wah, nenek cantik banget, rambutnya panjang dikepang dua. Itu kakek ya? kakek kok pegang bambu? Itu lagi di mana, Nek?”
“Iya, ini kakek dan nenek lagi di Banten. Kakekmu dulu seorang pedagang, tetapi ia juga membantu mengusir Belanda dari Banten, kota kelahiran kakek dan nenek. Tetapi kakekmu gugur di medan perang saat nenek melahirkan ibumu, sayang” jelas Neneknya Hita, suaranya terdengar parau dan sedih.
“Gugur?” tanya Hita tidak mengerti.
“Gugur itu artinya meninggal, sayang. Hita mau dengar cerita nenek tentang kakek?” tanya nenek Hita tersenyum.
“iya, Hita mau denger. Ayo cerita, Nek !” sahut Hita girang dengan mata berbinar-binar.
Nenek menghela nafas panjang, lalu ia mulai bercerita dengan bahasa yang dapat dimengerti oleh Hita, dan Hita menyimaknya dengan serius.
***
Namaku Turiah, aku biasa dipanggil Turi. Aku terlahir di Banten, tanah Jawa Barat. Aku tidak mengetahui siapa kedua orang tuaku. Aku dipungut oleh Kyai Buya di Ciomas, Banten, yang sudah aku anggap sebagai ayahku sendiri. Kata beliau, kedua orang tuaku menitipkan aku kepadanya saat mereka dikejar-kejar oleh Belanda karena ketahuan meledakkan markas Belanda di Cilegon bersama masyarakat. Ayahku dan sejumlah masyarakat kabur tunggang langgang karena akan dihukum mati oleh Belanda. Mereka ingin melawan tetapi kalah dalam fasilitas senjata. Ayahku yang membawa ibuku, takut kalau aku yang masih bayi sampai menjadi korban. Mereka terpaksa menitipkan aku ke Kyai Buya dalam perjalanan pelariannya. Mereka berpesan kepada Kyai Buya kalau mereka akan kembali lagi untuk mengambilku kalau mereka masih ada umur panjang, tetapi dalam kenyataannya mereka tidak kembali lagi.
Setelah beranjak remaja, aku bertemu dengan seorang pria hitam manis di Pasar Ciomas. Namanya adalah Husein. Ia seorang pedagang sayur yang ramah dan menyenangkan. Kami mulai dekat setelah ia menolongku ketika aku digoda oleh serdadu Belanda yang sedang mengawasi jalannya transaksi jual beli di pasar. Dengan keahlian silatnya, ia berhasil membuat serdadu Belanda tersebut lari tunggang langgang. Aku yang masih ketakutan, diantarkan pulang oleh Husein. Dalam perjalanan, ia selalu berusaha membuatku tertawa dan tidak merasa takut lagi.
Setelah setahun dekat, ia melamarku dan kami menikah di penghujung bulan Desember tahun 1940. Kami tinggal di bawah kaki Gunung Karang, Banten. Kami dikaruniai satu orang anak laki-laki, namanya Haqi. Kami hidup dalam kesederhanaan meskipun terjadi pertumpahan darah di mana-mana karena perang melawan Bangsa Asing. Husein pun sering sekali ikut bertempur dengan bambu runcing peninggalan ayahnya. Ia sangat dendam dengan serdadu-serdadu berkulit putih yang telah membantai habis keluarganya hingga tak tersisa.
Pada tahun 1944, aku hamil lagi. Husein sangat senang dan mengharap anaknya kelak lahir adalah perempuan. Saat itu kepenguasaan Belanda telah diambil alih oleh Bangsa Jepang. Husein beserta rakyat Banten terkena beban Romusha. Pekerjaan Romusha sangat berat, terkadang aku tidak tega melihat suamiku pulang ke rumah dengan tubuh yang penuh luka-luka dan tidak jarang ada yang berdarah. Ia hanya terdiam dan tersenyum tanpa berkata apa-apa.
Pada tahun 1945, perkembangan janin didalam kandungan begitu pesat. Tidak jarang calon buah hatiku menendang perutku. Husein sangat senang dan sering menciumi perutku yang telah membuncit. Haqi, anak sulungku juga senang sekali dan tidak sabar menunggu adiknya lahir.
Prahara itu datang ketika bangsa Jepang yang telah terusir dari ibu kota melarikan diri ke Gunung Karang. Mereka tidak bisa kembali ke negara Jepang karena kalah dalam Perang Dunia ke II. Dalam kegalauan yang telak, bangsa Jepang membabat habis warga Gunung Karang yang tidak hormat kepada mereka. Husein, suamiku, tidak tinggal diam melihat tetangga-tetangganya jatuh bergelimpangan bersimbah darah di tanah berbatu Gunung Karang tanpa dosa. Ia dan segenap warga di bawah kaki gunung melakukan strategi agar dapat mengusir tentara Jepang tersebut. Ia menjelaskan tentang propaganda dan strategi agar rencana dapat berjalan baik. Aku jengah dan takut. Sungguh, aku ketakutan kalau ia sampai terluka atau bahkan gugur. Sungguh, aku tidak siap menjadi janda, ditambah anak didalam kandunganku belum lahir. Aku mencegahnya, tetapi ia hanya tersenyum dan menghiburku agar aku tidak perlu mengkhawatirkan dirinya.
Setelah sholat subuh dan makan, Husein bersiap-siap. Ia dan warga akan melaksanakan strateginya pagi itu. Aku pun menangis tidak rela. Ia menatapku sejenak, dan membungkukkan tubuhnya sambil memasangkan telinganya ke perutku.
“Dede, lagi apa? Lagi bobo ya? Apapun jenis kelamin kamu nanti, abah nitip ummi ya? kalo seandainya abah ga bisa melihat dan menjaga Dede dan Ummi, Dede jagain Ummi ya? Abah selalu mendoakan Dede agar menjadi anak yang tegar, tangguh, serta cerdas. Abah sayang sama Dede” kata Husein sambil mengelus perutku. Tangisku kembali pecah.
“Ummi, Abah berangkat dulu ya? jangan nangis lagi. Abah sayang sama Ummi. Insya Allah Abah pulang kok. Abah minta doa restu dari Ummi ya?” kata Husein sambil mencium keningku, dan aku masih menangis.
Diambilnya bambu runcing peninggalan ayahnya di dapur. ia mengecup kening Haqi yang sedang tidur. Ia tersenyum kepadaku dan mengucapkan salam. Hatiku renyuh dan sedih.
Satu jam setelah Husein pergi, perutku mulas. Aku tidak sengaja memecahkan teh di gelas. Haqi terbangun dan panik. Ia pergi mencari bantuan. Aku lihat air ketubanku pecah beserta darah. Aku tidak berdaya, dan yang aku ingat adalah Husein, suamiku.
Aku melahirkan di rumah dan dibantu oleh dukun beranak. Haqi menunggu bersama tetangga di luar rumah. Aku berjuang antara hidup dan mati agar anakku bisa lahir ke dunia ini dengan selamat. Setelah hampir habis perjuanganku, akhirnya terdengar tangis bayi yang baru saja keluar dari rahimku. Aku sangat senang, ditambah mendapat kabar kalau anakku adalah perempuan.
Tiba-tiba Kang Asep, tetanggaku sekaligus teman seperjuangan suamiku, berlari tergesa-gesa menghampiri rumahku dengan raut wajah sedih.
“Kang Asep? Kok sendirian? Kang Husein mana?” tanyaku menahan sakit akibat persalinan.
Ia terdiam dan tertunduk lesu.
“Neng Turi, tabahkan hatimu. Suamimu sekarang telah tiada, ia ditembak oleh serdadu Jepang. Ia mati syahid dalam memperjuangkan tanah kelahiran, Neng. Ia gugur tertembak di Gunung Karang”
Aku tersentak kaget, mataku berkunang-kunang dan akhirnya gelap.
***
“Sudah, Ummi, tidak usah diceritakan lagi. Hita masih kecil...” kata ibu mendadak dari balik pintu kamar nenek. Terlihat jelas Ia murung dan sedih, mungkin karena ia tidak pernah bertemu ayahnya dan hanya tahu siapa ayahnya dari ibunya dan orang-orang Banten.
“Ibu, kakeku ternyata hebat ya?” kata Hita sambil menyeka air matanya.
Nenek terdiam dan melihat foto itu lagi. Setelah nenek Hita menjanda dua tahun, ia menikah dengan Kang Asep, teman seperjuangan suaminya. Dari pernikahannya, ia mempunyai satu anak perempuan yang tidak lain adalahnya bibi Hita. Setelah Ibunya Hita menikah, Kang Asep meninggal karena stroke, sedangkan nenek Hita meninggal saat Hita berusia 13 tahun karena penyakit diabetes.
***
“Hita, sudah mandi belum?” tanya Bibi mengagetkan Hita. Hita tersentak dan terbuyar dari lamunan masa kecilnya tentang foto yang dipegangnya.
“belum, Bi. Ini baru mau mandi kok.” Sahut Hita cepat sambil menaruh foto mendiang nenek dan kakeknya di laci meja.
Sebelum meninggalkan foto di laci meja, Hita tersenyum.
“Nenek, semoga kau dan kakek bahagia di alam keabadian...”
Hartika Arbiyanti
Karangwuni - Yogya, E6, 17/08/2011, 17:42